KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan Inayah-Nya sehingga kami dapat
merampungkan penyusunan makalah pendidikan agama islam dengan judul “Akhlak”.
Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam merampungkan makalah ini terutama bapak dosen.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para pembaca untuk mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah selanjutnya.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Manusia merupakan makhluk yang sangat menarik.
Oleh karena itu, manusia dan berbagai hal dalam dirinya sering menjadi
perbincangan diberbagai kalangan. Hampir semua lemabaga pendidikan tinggi
mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya terhadap dirinya sendiri,
masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya. Para ahli telah mencetuskan
pengertian manusia sejak dahulu kala, namun sampai saat ini belum ada kata
sepakat tentang pengertian manusia yang sebenarnya. Hal ini terbukti dari
banyaknya sebutan untuk manusia, misalnya homo sapien (manusia
berakal), homo economices (manusia ekonomi) yang kadangkala
disebutEconomical Animal (Binatang ekonomi), dan sebagainya.
Agama islam sebagai agama yang paling baik
tidak pernah menggolongkan manusia kedalam kelompok binatang. Hal ini berlaku
selama manusia itu mempergunakan akal pikiran dan semua karunia Allah SWT dalam
hal-hal yang diridhoi-Nya. Namun, jika manusia tidak mempergunakan semua
karunia itu dengan benar, maka derajat manusia akan turun, bahkan jauh
lebih rendah dari seekor binatang. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an
surat Al-A’raf ayat 179.
Sangat menariknya pembahasan tentang manusia
inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengulas sedikit tentang Manusia
Menurut Pandangan Islam.
1.2 Rumusan masalah
Untuk mengkaji dan mengulas tentang manusia
dalam pandangan islam, maka diperlukan subpokok bahasan yang saling
berhubungan, sehingga penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian manusia
menurut islam?
2. Bagaimana penciptaan
manusia dalam islam?
3. Apa hakikat manusia
menurut islam?
4. Apa kelebihan manusia dari
makhluk lain?
5. Apa fungsi dan tanggung
jawab manusia dalam islam?
BAB ii PEMBAHASAN
MANUSIA MENURUT PERSPEKTIF ISLAM
Manusia merupakan makhluk
yang paling mulia di sisi Allah SWT. Manusia memiliki keunikan yang
menyebabkannya berbeda dengan makhluk lain. Manusia memiliki jiwa yang bersifat rohaniah, gaib, tidak dapat
ditangkap dengan panca indera yang berbeda dengan makhluk lain karena pada
manusia terdapat daya berfikir, akal, nafsu, kalbu, dan sebagainya.
2.1 Pengertian Manusia
Pengertian manusia dapat dilihat dari berbagai
segi. Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin),
yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai makhluk
lain. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta,
sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang
individu. Secara biologi, manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otakberkemampuan tinggi.
2.1.1 Pengertian manusia menurut para
ahli
Ø
NICOLAUS
D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah
jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu
barang
Ø
ABINENO
J. I
Manusia adalah "tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa
abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana"
Ø
UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa,
pikiran, dan prana ataubadan fisik
Ø
I
WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu
cipta, rasa dan karsa
Ø
OMAR
MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk
yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal,
dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan
lingkungan.
Ø
ERBE
SENTANU
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa
dikatakan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan
dengan mahluk yang lain
Ø
PAULA
J. C & JANET W. K
Manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi,
mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut
menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai
kemungkinanan.
2.1.2 Pengertian manusia menurut agama
islam
Dalam Al-Quran manusia dipanggil dengan beberapa
istilah, antara lain al-insaan, an-naas, al-abd,bani adam dan sebagainya.
Al-insaan berarti suka, senang, jinak, ramah, atau makhluk yang sering lupa.
An-naas berarti manusia (jama’). Al-abd berarti manusia sebagai hamba Allah.
Bani adam berarti anak-anak Adam karena berasal dari keturunan nabi Adam.
Namun dalam Al-Quran dan Al-Sunnah disebutkan
bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi
serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan
akhirat.
2.2 Penciptaan
Manusia dalam Agama Islam
Sebagaimana yang telah Allah firmankan:
“Sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At Tin : 5)
Lalu, Terdapat dua ayat Al Qur’an yang
setidaknya dapat mewakili untuk menunjukkan kepada kita bahwa asal kejadian
manusia itu dari tanah. Ayat itu adalah dari surat Shad ayat 71
yang artinya “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”
dan surat Ash Shaffat ayat 11 yang artinya “Sesungguhnya Kami
telah menciptakan mereka dari tanah liat.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan
tahapan-tahapan penciptaan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk (lain). Maka Maha Sucilah Allah,
Pencipta Yang Paling Baik.” (Al Mukminun : 12-14)
“Wahai manusia, jika
kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka ketahuilah
sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani,
kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna
kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami
tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi … .” (Al Hajj :
5)
Ayat-ayat di atas
menerangkan tahap-tahap penciptaan manusia dari suatu keadaan kepada keadaan
lain, yang menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Begitu pula
penggambaran penciptaan nabi Adam yang Allah ciptakan dari suatu saripati yang
berasal dari tanah berwarna hitam yang berbau busuk dan diberi bentuk,
yang tertera dalam surat Al Hijr ayat 26, “Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam
yang diberi bentuk.”
Setelah Allah SWT menciptakan nabi Adam dari
tanah. Allah ciptakan pula Hawa dari Adam, sebagaimana firman-Nya :
“Dia menciptakan kamu
dari seorang diri, kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya … .” (Az
Zumar : 6)
“Dialah yang
menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya,
agar dia merasa senang kepadanya … .” (Al A’raf : 189)
Dari Adam dan Hawa
‘Alaihimas Salam inilah terlahir anak-anak manusia di muka bumi dan
berketurunan dari air mani yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang
dada perempuan hingga hari kiamat nanti. (Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 457)
Allah SWT menempatkan nuthfah (yakni air mani
yang terpancar dari laki-laki dan perempuan dan bertemu ketika terjadi jima’)
dalam rahim seorang ibu sampai waktu tertentu. Dia Yang Maha Kuasa menjadikan
rahim itu sebagai tempat yang aman dan kokoh untuk menyimpan calon manusia. Dia
nyatakan dalam firman-Nya :
“Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina? Kemudian
Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim) sampai waktu yang ditentukan.”
(Al Mursalat : 20-22)
Dari nuthfah, Allah
jadikan ‘alaqah yakni segumpal darah beku yang bergantung di dinding rahim.
Dari ‘alaqah menjadi mudhghah yakni sepotong daging kecil yang belum memiliki
bentuk. Setelah itu dari sepotong daging bakal anak manusia tersebut, Allah
Subhanahu wa Ta’ala kemudian membentuknya memiliki kepala, dua tangan, dua kaki
dengan tulang-tulang dan urat-uratnya. Lalu Dia menciptakan daging untuk
menyelubungi tulang-tulang tersebut agar menjadi kokoh dan kuat. Ditiupkanlah
ruh, lalu bergeraklah makhluk tersebut menjadi makhluk baru yang dapat melihat,
mendengar, dan meraba. (dapat
dilihat keterangan tentang hal ini dalam kitab-kitab tafsir, antara lain dalam
Tafsir Ath Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, dan lain-lain)
Dari pembahasan
diatas, terdasarlah kita bahwa kita tak patut untuk menyombongkan diri karena
kita ini adalah ciptaan yang Maha Kuasa. Ciptaan yang diciptakan dengan
sebaik-baiknya. Patutlah kita mensyukurinya dan beribadah kepada-Nya.
2.2 Hakikat
Manusia
Manusia dalam pandangan Islam terdiri atas dua
unsur, yakni jasmani dan rohani. Jasmani manusia bersifat materi yang berasal
dari unsur unsur saripati tanah. Sedangkan roh manusia merupakan substansi
immateri berupa ruh. Ruh yang bersifat immateri itu ada dua daya, yaitu daya
pikir (akal) yang bersifat di otak, serta daya rasa (kalbu). Keduanya merupakan
substansi dari roh manusia.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang
selalu berkembang dengan pengaruh lingkungan sekitarnya karena
makhluk utuh ini memiliki potensi pokok yang terdiri atas jasmani, akal, dan
rohani. Hal lain yang menjadi hakikat manusia adalah mereka berkecenderungan
beragam. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi pokok paling
banyak, manusia menjadi menarik untuk diteliti. Manusia yang
sebagai subjek kajian mengkaji manusia sebagai objek kajiannya dalam hal
karya, dampak karya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan
hidupnya. Namun, sampai sekarang manusia terutama ilmuwan belum mencapai kata
sepakat tentang manusia.
Dalam bukunya Man the Unknown, Dr.
A. Carrel menjelaskan tentang kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat
manusia. Beliau menulis :
Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang
sangat besar untuk mengetahui dirinya, kendatipun kita memiliki pembendaharaan
yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof, sastrawan, dan
para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya
mampu mengetahui dari segi tertentu dari diri kita. Kita tidak mengetahui
manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari
bagian bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata
cara kita sendiri. Pada hakikatnya, kebanyakan pertanyaan pertanyaan yang
diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia kepada diri mereka hingga kini
masih tetap tanpa jawaban.
Manusia diberi Allah potensi yang sangat
tinggi nilainya seperti pemikiran, nafsu, kalbu, jiwa, raga, panca indera.
Namun potensi dasar yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah
lainnya terutama hewan adalah nafsu dan akal/pemikiran. Manusia memiliki nafsu
dan akal, sedangkan binatang hanya memiliki nafsu. Manusia yang cenderung
menggunakan nafsu saja atau tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi
pemberian Allah lainnya secara baik dan benar, maka manusia akan menurunkan
derajatnya sendiri menjadi binatang, walaupun Al-Quran tidak menggolongkan
manusia ke dalam kelompok binatang seperti yang dinyatakan Allah dalam Al-Quran
(Q.S. Al A’raf : 179) :
Mereka (jin dan manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan
untuk memahami (ayat ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk
melihat (tanda tanda keksuasaan Allah), punya telinga tetap tidak mendengar
(ayat ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan
hewan, bahkan lebih rendah (lagi) dari binatang.
2.3 Kelebihan
Manusia dari Makhluk Lain
Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak adam (manusia)
dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami melebihkan
mereka atas makhluk-makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang menonjol
( QS. Al Isra 70).
Pada prinsipnya, malaikat adalah makhluk yang
mulia. Namun jika manusia beriman dan taat kepada Allah SWT ia bisa melebihi
kemuliaan para malaikat. Ada beberapa alasan yang mendukung pernyataan
tsb.
Pertama, Allah SWT memerintahkan kepada
malaikat untuk bersyujud (hormat) kepada Adam as. Allah berfirman saat awal
penciptaan manusia ;
“Dan ingatlah
ketika Kami berfirman kepada Malaikat, sujudlah kamu kepada adam, maka sujudlah
mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan ia adalah termasuk
golongan kafir. ( QS. Al Baqarah 34).
Kedua, malaikat tidak
bisa menjawab pertanyaan Allah tentang al asma (nama-nama ilmu pengetahuan)
sedangkan Adam mampu karena memang diberi ilmu oleh Allah SWT.
“ Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada
para malaikat, lalu berfirman, Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
kamu memang golongan yang benar. Mereka menjawab, Maha Suci Engkau, tidak ada
yang kami katahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami,
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah
berfirman, Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini. Maka
setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman, Bukankah sudah
Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi
dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan.” (Q S. Al Baqarah 33)
Ketiga, kepatuhan malaikat kepada
Allah SWT karena sudah tabiatnya, sebab malaikat tidak memiliki
hawa nafsu sedangkan kepatuhan manusia pada Allah SWT melalui perjuangan yang
berat melawan hawa nafsu dan godaan syetan.
Keempat, manusia diberi tugas oleh Allah
menjadi khalifah dimuka bumi, “Ingatlah ketika Tuhan mu berfirman kepada para
malaikat, : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah
dimuka bumi…”(QS.Al Baqarah 30)
Melihat pembahasan di atas, terlihat bahwa manusia memiliki
kelebihan dari makhluk lain. Karena sebagai mana kita ketahui, Allah telah
menjadikan manusia sebagai makhluk yang mulia. Atas dasar fakta-fakta di atas,
sudah sewajarnyalah, kita sebagai manusia (makhluk ciptaan Allah) senantiasa
bersyukur atas karunia dan kasih sayang-Nya. Salah satu kunci kesuksesan adalah
bersyukur.
2.4 Fungsi,
Peran dan Tanggung Jawab Manusia Menurut Islam
Manusia sebagai salah satu makhluk hidup di Bumi ini mempunyai
berbagai fungsi, peran dan tanggung jawab, dan Islam sebagai agama dengan
jumlah pemeluknya terbesar dibanding agama-agama yang lain, sudah tentu
mempunyai pandangan tersendiri akan fungsi, peran dan tanggung jawab manusia di
Bumi.
2.5.1 Peran
Manusia Menurut Islam
Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36, maka peran yang dilakukan
adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan
ajaran Allah. Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor
pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut memulai dari diri dan
keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.
Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang
telah ditetapkan Allah, diantaranya adalah :
1. Belajar (surat An naml : 15-16 dan Al Mukmin :54)
; Belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat al Alaq adalah mempelajari
ilmu Allah yaitu Al Qur’an.
2. Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39)
3. Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 ) ; Ilmu yang
telah diketahui bukan hanya untuk disampaikan kepada orang lain melainkan
dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu agar membudaya. Seperti apa yang
telah dicontohkan oleh Nabi SAW.
2.5.2 Tanggung
Jawab Manusia Menurut Islam
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan
harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di
muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di
muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Allah
untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada
manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa
yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya.
Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan
memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang
dinamis. Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah,
sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak
sewenang-wenang.
Kekuasaan manusia sebagai wakil Allah dibatasi oleh
aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang
diwakilinya, yaitu hukum-hukum Allah baik yang tertulis dalam kitab suci
(al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun).
Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang
mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang
diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan
kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35
(Faathir : 39) yang artinya adalah :
“Dia-lah yang
menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa yang kafir, maka
(akibat) kekafiran orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah
kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak
lainhanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.
Kedudukan manusia di
muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba Allah, bukanlah dua hal yang
bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan.
Kekhalifan adalah realisasi dari pengabdian kepada Allah yang menciptakannya.
Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap
muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan maka akan lahir
sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh
ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4) yang
artinya “sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya”.
Di dalam Al Quran sudah begitu lengkap semua hal mengenai
fungsi, peran dan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu manusia wajib membaca
dan memahami Al Quran agar dapat memahami apa fungsi, peran dan tanggung
jawabnya sebagai manusia sehingga dapat menjalani kehidupan dengan penuh makna.
BAB 3 PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN
Manusia dalam agama islam diartikan sebagai
makhluk Allah SWT yang memiliki unsur dan jiwa yang arif, bijaksana, berakal,
bernafsu, dan bertanggung jawab pada Allah SWT. Manusia memiliki jiwa yang bersifat rohaniah,
gaib, tidak dapat ditangkap dengan panca indera yang berbeda dengan
makhluk lain karena pada manusia terdapat daya berfikir, akal, nafsu,
kalbu, dan sebagainya.
“Dan sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk (lain). Maka Maha Sucilah Allah,
Pencipta Yang Paling Baik.” (Al Mukminun : 12-14)
manusia memiliki kelebihan dari makhluk lain,
salah satu buktinya adalah kepatuhan manusia pada Allah SWT melalui
perjuangan yang berat melawan hawa nafsu dan godaan syetan sedangkan kepatuhan
malaikat kepada Allah SWT karena sudah tabiatnya, sebab
malaikat tidak memiliki hawa nafsu . Oleh karena itu sebagai manusia
(makhluk ciptaan Allah) seharusnyalah kita senantiasa bersyukur atas karunia
dan kasih sayang-Nya, karna salah satu kunci kesuksesan adalah bersyukur.
Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak adam (manusia)
dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami melebihkan
mereka atas makhluk-makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang menonjol
( QS. Al Isra 70).
Fungsi utama manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi ini
dan perannya sebgai khalifah sebagaimana yang ditetapkan Allah SWT mencakup
tiga poin yaitu belajar, mengajarkan ilmu, dan membudayakan ilmu. Tenggung
jawab manusia sebagai khalifah yang berarti wakil Allah adalah mewujudkan
kemakmuran di muka bumi, mengelola dan memelihara bumi.
Sebenarnya Al Quran sudah membahas semua hal mengenai
fungsi, peran dan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu manusia wajib membaca
dan memahami Al Quran agar dapat memahami apa fungsi, peran dan tanggung
jawabnya sebagai manusia, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan penuh
makna.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. Daud. 1998. Pendidikan Agama Islam. PT
RajaGrafindo Persada : Jakarta.
Shihab, M. Quraish. 2007. Wawasan Al-Quran. PT Mizan
Pustaka : Bandung.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar